Seperti virus, sebuah film pendek
menularkan keinginan bagi tiap orang yang kreatif untuk mencoba membuat
film pendek lainnya. Begitulah yang dirasakan Teddy Andika ketika
melihat teman-teman di komunitas Fiksimini begitu bergairah membuat film
pendek. Maka keinginan tersebut disampaikan pada penggagas
filmfiksimini, Diki Umbara, yang dengan tangkas menyambut keinginan
besar Teddy untuk menjadi seorang sutradara debutan film pendek.
Dimulailah pencarian ide cerita yang akan difilmkan hingga jatuhlah
pilihan pada sebuah fiksimini bergendre sci fi karya Dedi Rahyudi.
Bukan tanpa alasan cerita ini dipilih, karena fiksimini adalah imajinasi
maka Teddy Andika berkeyakinan bahwa cerita absurd tersebut bisa
dijadikan sebuah film pendek.
MESIN PENJUAL WAJAH. “Brengsek!” Koin terakhirku tersangkut. Antrian orang tanpa wajah mulai ribut. Sirene razia berbunyi.
Dari fiksimini tersebut berkembanglah
sebuah kisah di suatu tempat antah berantah, orang-orang yang hidup di
dalamnya diwajibkan memiliki wajah yang serupa dengan penguasa lalim di
sana. Tak peduli lelaki, perempuan bahkan anak-anak. Wajah temporer
itu dapat dibeli melalui sebuah vending machine. Hingga pada
suatu pagi, seorang tokoh terbangun dan mendapati wajah temporernya
mulai hilang. Dia berlari menuju sebuah mesin, untuk segera mendapatkan
wajah. Perlu diketahui bahwa di tempat tersebut sering dilakukan razia
terhadap warganya yang tidak menggunakan wajah temporer. Jika
tertangkap mereka akan dihabisi. Naas bagi tokoh tersebut, sesampainya
di vending machine kartunya tak dapat digunakan, sementara razia berlangsung. Dari sini kejar-mengejar pun dimulai.
Absurd dan sulit. Merupakan hambatan awal
dalam merealisasikan film yang membutuhkan visual effect dalam
ceritanya. Tak pelak diperlukan seorang director visual effect yang
mumpuni, dan pilihan jatuh pada Anggun Adi atau lebih dikenal dengan
Goenrock di dunia linimasa. Lewat diskusi panjang perihal treatment
yang akan dimunculkan pada film tersebut, Goenrock menyetujui untuk
mengawaki urusan visual effect film dimaksud. Film ini diperankan oleh
Indra Birowo, Dennis Adishwara dan teman-teman dari Fiksimini Jakarta.
Berikut crew lainnya; DOP – Muchamad Nugie, Astrada – Pekik Indra
Lesmana, Art –Mega Khairunnisa, Make up – Kikikuik, Cerita – Dedi
Rahyudi, Koordinator talent – Oddie, Unit – Ade Julizar, Scoring – Ricky
Juniar Pratama. Hambatan pertama, terlampaui.
Hambatan berikutnya adalah properti.
Bagaimana mendapatkan mesin penjual wajah? Awalnya direncanakan mesin
penjualnya menyerupai alat penjual minuman otomatis yang banyak terdapat
di public area. Dengan mempertimbangkan kesulitan detail pada alat
tersebut, maka diputuskan mesin menyerupai ATM saja. Sehingga tampak
lebih digital. Beruntung Mega Khairunnisa mendapatkan vendor yang mampu
menerjemahkan disain yang diinginkan. Mesin tersebut dibuat dari
semacam kardus glossi dengan layar hijau yang nanti akan digunakan
Goenrock untuk proses green screening.
Penentuan lokasi shooting. Ini adalah
hambatan besar berikut yang justru membuat proses shooting menjadi molor
hingga sebulan lebih. Pada awalnya direncanakan shooting akan
dilakukan di Teater Jakarta TIM dan Museum Iptek/TMII namun terbentur
masalah birokrasi perizinan yang rumit. Beruntung, Fiksimini pernah
mengadakan kelas kreatif di Museum Bank Mandiri di daerah Kota.
Memperhatikan spot-spot yang ada, serta terdapat Mesin ATM antik yang
dapat digunakan, dipilihlah tempat tersebut. Ditambah, Bapak Abubakar
Darusalam selaku Kepala Museum Bank Mandiri sangat mendukung kegiatan
ini. Maka ditetapkanlah tanggal shooting dilakukan pada 8 Juni 2012.
Penetapan tanggal pun ternyata tidak mudah, memperhatikan kesibukan main
cast dan crew yang luar biasa.
Kegiatan shooting dimulai jam 09.00 wib
di bagian samping museum yang menghadap ke jalan raya. Hal ini
mengakibatkan banyaknya khalayak yang menonton proses shooting. Maklum
saja kali ini shooting melibatkan dua aktor nasional yang sudah dikenal
sebagai selebritas oleh masyarakat. Ini merupakan masalah tersendiri,
tak sekali-dua proses shooting bocor karena adanya orang yang tiba-tiba
muncul dalam rekaman.
Yang unik dari shooting ini adalah proses
marking pada wajah talent-talent yang terlibat. Karena wajah mereka
rencananya akan diganti menjadi menyerupai wajah Indra Birowo dan
Dennis. Akting talent pun menjadi terbatas, karena pergerakan
kepala/wajah sangat diatur oleh sutradara dan director visual effect.
Nyaris sepanjang shooting main cast (Indra Birowo) harus melakukan
adegan berlari yang tentunya memerlukan energi yang luar biasa.
Salutnya, tak sedikit terpancar wajah lelah pada yang bersangkutan.
Malah seringkali Indra melakukan lelucon-lelucon yang membuat crew dan
talent terpingkal-pingkal. Sungguh proses shooting yang melelahkan
namun mengasyikkan. Kegiatan shooting diakhiri menjelang pukul 18.00
wib dengan pindah lokasi ke sebuah hotel di dekat museum untuk
mendapatkan adegan di sebuah kamar tidur.
Shooting menggunakan kamera 7D dengan
lensa 24-70, 11-16, 70-200. Lighting menggunakan 1 redhead, 2 kinoflo
dan 1 LED ditunjang dengan steadycam dan slider. Dengan sudut-sudut
pengambilan gambar yang unik dan pencahayaan rendah serta warna lowkey,
hampir dipastikan film ini niatnya menyerupai film-film noir. Namun apa
pun hasilnya, Alter ternyata mampu menerabas hambatan besar yang ada.
Ketika BTS ini ditulis film tersebut masih melalui proses editing dan
scoring.
Ditulis oleh: Dedi Rahyudi Foto: Mega Khaerunisa
Posting Komentar